BKM Pattoe Rannu Bergerak Antisipasi Penyebaran Covid 19 di Kelurahan Pangali Ali

BKM Pattoe Rannu Bergerak Antisipasi Penyebaran Covid 19 di Kelurahan Pangali Ali

MAJENE, TERASSULBAR — Corona virus disease atau Covid-19 kian mewabah tak terkecuali di Indonesia. Hal ini tentu membuat resah masyarakat tanpa mengenal kelas sosial atau domisili. Tercatat, kasus positif telah mencapai kurang lebih delapan ribu orang dan meninggal hampir tujuh ratus orang di Indonesia.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, sebuah Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) yang digawangi para anak muda Kelurahan Pangali – Ali memutuskan untuk melakukan pengadaan alat cuci tangan. BKM Pattoe Rannu yang dikoordinatori Najib itu ingin peduli terhadap bencana sosial yang diakibatkan virus yang berasal dari Wuhan Tiongkok itu.

“Karena itu BKM Pattoe Rannu hendak turut andil untuk bahu membahu dalam penanganan Covid-19 yang kian meresahkan masyarakat khususnya di Kelurahan Pangali-ali,” kata Najib usai menyerahkan alat cuci tangan secara simbolis kepada masyarakat Kelurahan Pangali-ali melalui Sekretaris Kelurahan Pangali-ali Abdul Rasak, Kamis 23 April 2020.

Alat cuci tangan itu akan ditempatkan di empat titik di kelurahan Pangali-ali yang dianggap sebagai pusat keramaian. Itu berdasarkan kajian internal sembilan anggota BKM Pattoe Rannu selaku pimpinan kolektif.

Empat titik yang dimaksud antara lain, monumen posasi Pangali-ali, yang sehari hari digunakan sebagai tempat penjualan ikan oleh masyarakat setempat,” Kedua, di samping kantor Badan Perencanaan Daerah yang mana terdapat posko pemuda relawan pencegah Covid-19 Timbo-timbo,” ujarnya.

Najib menjelaskan, terdapat empat lingkungan di Kelurahan Pangali-ali yang melalui jalur ini, yakni Lingkungan Timbo-timbo, Panggalo, Rusung, serta Salabose. Sehingga dianggap salah satu titik keramaian yang utama. Ketiga, di dermaga perahu nelayan di Lingkungan Tanangan. Keempat, ditempatkan di pasar tradisional Lingkungan Tanangan Barat.

Lebih jauh Najib menjelaskan, pada BKM terdapat dana bergulir yang dikelola oleh Unit Pengelola Keuangan (UPK). Dana tersebut digulirkan di masyarakat kelurahan Pangali-ali untuk memberdayakan pelaku usaha kecil dalam bentuk kelompok atau disebut juga Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).

Laba dari dana bergulir itu kemudian dimasukkan ke kas BKM sebesar 50 persen. Dari 50 persen itu sebagian digunakan BKM sebagai biaya operasional lembaga, sebagian lagi dimasukkan kedalam dana sosial untuk dikembalikan kepada masyarakat Pangali-ali dalam bentuk program sosial, dan sebagian lagi dimasukkan kedalam dana lingkungan yang juga untuk dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk program lingkungan.

Program pengadaan alat cuci tangan tersebut di atas menggunakan dana sosial. BKM Pattoe Ranny merupakan lembaga yang terbentuk dari Program KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh) di Kelurahan Pangali- Ali, Kecamatan Banggae Kabupaten Majene.

Sementara itu Sekretaris Lurah Pangali Ali Abdul Rasak menjelaskan, apa yang dilakukan BKM Pattoe Rannu ini patut diapresiasi, sebab mereka melakukannya secara mandiri baik dari segi teknis maupun keuangan, meski hanya memiliki anggaran sangat tipis.

“Kami sangat berterimakasih kepada BKM Pattoe Rannu dengan diadakannya alat cuci tangan di kelurahan Pangali-ali ini,” kata Seklur Abdul Rasak.

Kata dia, dengan baskom sebagai pengganti westafel sudah memenuhi standar. Inilah fungsi utama BKM. Berpikir dan berbuat untuk menyelesaikan persoalan serumit apapun khususnya di lingkup kelurahan Pangali-ali.(dln)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *