Bumbu Dapur Pengaruhi Inflasi di Sulbar

- in Ekobis, Mamuju, Sulbar

MAMUJU,TERASSULBAR РBadan Pusat Statistik (BPS) Sulbar mencatat inflasi di Mamuju sepanjang Agustus 2019 sebesar 0,43 persen dengan indeks harga konsumen 133,21. Inflasi itu paling besar dipengaruhi harga sejumlah bumbu dapur di pasaran.

Kepala BPS Sulbar Win Rizal mengatakan inflasi itu memang didominasi bahan makanan atau bumbu dapur. Bumbu-bumbuan ini menyumbang inflasi 7,39 persen. Meskipun ada juga makanan yang mengalami deflasi.

Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi adalah cabe merah sebesar 0,30 persen, layang 0,09 persen, dna cabe rawit 0,05 persen. Sementara komoditas penyumbang deflasi antara lain, bawang merah, 0,07 persen; beras 0,02 persen; dan telur ayam ras 0,02 persen.

“Kalau kita lihat memang selalu itu, seperti cabe. Namun bulan ini, bawang justru turun. Untuk cabe mungkin pasokan yang sering mengganggu, karena kurangnya pasokan, ada kenaikan harga cabe,” katanya saat merilis indeks harga konsumen/inflasi di Kantor BPS Sulbar, Senin (02/09/19).

Secara nasional memang Mamuju salah satu tertinggi kenaikan harga cabe di Indonesia. Dia menduga penyebabnya karena tidak adanya sentra cabe di Sulbar.

“Kehidupan kita memang sangat tergantung dengan cabe. Salah satu terobosan yang bisa dilakukan adalah membangun sentra cabe agar stok selalu tersedia. Paling tidak mengurangi kenaikan harga,” katanya.

Sedangkan kelompok daging dan hasil-hasilnya, menyumbang inflasi sebesar 2,21 persen, ikan segar, 1,95 persen; ikan kering, 0,07 persen; kacang-kacangan, 2,03 persen; buah-buahan 0,46 persen dan bahan makanan lainnya 0,46 persen.

Sementara, kelompok padi-padian, umbi-umbian dan hasilnya mengalami deflasi sebesar 0,36 persen. Telur, susu dan hasil-hasilnya juga mengalami deflasi sebesar 1,17 persen. Sedangkan sayur-sayuran deflasi sebesar 0,29 persen. (sr)

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *