Eksekutif Bongkar Anjungan Pantai Manakarra Tanpa Sepengetahuan DPRD Mamuju

MAMUJU,TERASSULBAR –  Pembongkaran kolam di Anjungan Pantai Manakarra tanpa sepengetahuan DPRD Mamuju.

Anggota Komisi I DPRD Mamuju, Hapisa membeberkan, pihak eksekutif tidak pernah menyampaikan rencana perbaikan fasilitas umum (fasum) itu. Baik secara lisan, tulisan atau secara resmi, hingga fasum tersebut dibongkar, Kamis 11 Oktober yang lalu.

Padahal, menurut politisi Partai Hanura itu, merujuk Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2014, Legislatif dan eksekutif bersama melaksanakan roda pemerintahan. Namun kondisi itu tidak tercermin dalam upaya perbaikan tersebut. Eksekutif malah terkesan otoriter menjalankan roda birokrasi.

“Tidak ada komunikasi ke kami soal itu. Padahal rencana itu perlu dibicarakan bersama. Apalagi berkaitan dengan anggaran,” ketus Hapisa, Selasa (16/10/18).

Menurut Hapisa, rehab itu dilakukan dengan dalih menganggu kenyamanan pengunjung, maka pihak eksekutif harus membenahi, bukan membongkar. Sebaliknya, jika hanya gegara dinilai berbentuk mata dajjal, maka itu tidak logis. Mamuju memiliki banyak tokoh agama dan masyarakat yang bisa dimintai pendapat.

“Tapi ini tidak. Semua diputuskan sendiri. Akhirnya kan terkesan buang-buang anggaran,” ungkap politisi perempuan itu.

Informasi yang dihimpun Hapisa, rencananya rehabilitasi itu dilaksanakan 2019, mendatang. Namun ia melihat kejanggalan. Menurutnya, jika perbaikan dilakukan 2019, maka pembongkaran itu pul haruslah dilakukan 2019.

“Kan pembongkarannya tentu pakai anggaran. Jadi anggaran yang digunakan anggaran dari mana, ini kan patut dipertanyakan,” imbuh Hapisa.

Terpisah, Kepala Dinas PUPR Mamuju, Salihi Saleh mengungkapkan, berdasarkan asas mamfaat, kolam tersebut mendesak harus dibongkar. Fasum tersebut berbau dan terdapat banyak sampah.

“Itu mendesak dengan pertimbangan kenyamanan pengunjung. Kalau komunikasi ke DPRD tetap akan kita lakukan, pada saat pembahasan anggaran rehab di APBD 2019 nanti,” jelas Salihi.

Terkait anggaran yang digunakan untuk membongkar kolam di Anjungan, Salihi mengaku tidak menggunakan anggaran khusus. Kata dia, dinasnya memiliki alat berat dan operator yang bisa digunakan setiap saat.

“Kami punya alat jadi tidak harus pakai anggaran untuk membongkar,” pungkasnya. (sn)

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *