Krisis Pemuda Tani

“Menjadi petani itu bukan pekerjaan utama, hanya sampingan”

Oleh; Ulya Sunani (Penggiat Gema Desantara Kabupaten Polman)

Petikan kalimat di atas merupakan celetukan pembicaraan ringan saya dengan salah seorang pemuda di Polewali Mandar. Ia seorang Sajana Pertanian, lulusan Perguruan Tinggi terkemuka di daerah ini.

Menurutnya, ia belum bekerja dan hanya membantu orang tuanya mengolah beberapa Are luas lahan sawah.

Padahal, beberapa hari dan jam sebelum cerita ringan saya dengannya berlangsung, ia telah berpeluh. Berlomba dengan matahari untuk pergi ke sawah, sibuk mengandangkan sapi ketika petang. Ya, sekali lagi, ia mengaku hanya sekedar membantu orang tuanya, bertani.

Dengan itu, bersemai analisis ringan dalam benak saya yang mungkin juga salah, bahwa bertani, merupakan pekerjaan yang sangat berat. Kenapa? karena bertani adalah pekerjaan yang harus “dikeroyok” sebuah keluarga bersama seorang pemuda sehat nan berotot seperti teman saya yang satu ini.

Tapi sebenarnya, “pekejaan berat” yang saya analisis serampangan ini tidak ada apa-apanya dibanding lanjutan dari ceritanya. Menurutnya, menjadi petani itu lebih lama payahnya dari pada senyumnya, ini jalan hidup dan bukan sebuah pilihan hidup.

Mendengar itu, saya memperbaiki cara duduk sembari menyeruput kopi hitam. Ini merupakan salah satu taktik saya, supaya ia mau menceritakan lebih detail terkait statement-nya. Ia mesti bertanggung jawab atas berubahnya cara duduk dan berkurangnya volume kopi dalam cangkir saya.

Dan benar, ceritanya berlanjut. Bahwa diantara yang menjadi problem pertanian hari ini adalah mahalnya biaya produksi. Ini disebabkan perlakuan lebih terhadap lahan dan tanaman, ketika diperhadapkan dengan serangan hama. Dengan itu, para petani akan berada pada pilihan yang sulit.

Pertama, menambah biaya produksi dengan membeli bermacam-macam pestisida atau kedua, mereka akan gagal panen. Pilihan ketiga adalah, bahwa ketika pilihan pertama ditempuh, juga tidak bisa menghindarkan petani dari pilihan kedua, artinya meskipun menambah biaya produksi juga tidak bias menjamin panen mereka melimpah.

Meskipun, perlakuan dan cara tanam yang biasa juga bisa memangkas celengan keluarga petani. Berikut, teman saya menaksir biaya produksi hitungan normal 1 hektar lahan sawah untuk tanaman padi di Polewali Mandar. Biayanya bisa mencapai 5 juta untuk sekali turun sawah.

Ini hitungan standar yang juga melibatkan keluarga dalam proses pengerjaannya. Biaya tersebut terdiri dari ongkos tanam, sewa traktor dan pupuk serta pestisida yang masing-masing 1 juta. Untuk panen, ada peraturan lokal, 10 banding 1, artinya, dari 10 karung gabah hasil panen, maka mobil pemanen akan mendapat 1 karung gabah, ini berlaku kelipatan.
Sedangkan untuk ongkos angkut dari sawah ke rumah, berkisar 7000-10.000 per karung.

Kalau panen, hasilnya juga cukup menjanjikan. Begini perkiraanya. Untuk 1 hektar sawah bisa menghasilkan 70 sampai 80 karung gabah, dengan harga kisaran per-karung 450.000an. Jadi singkat hitungan, hasil bersih panen 1 hektar sawah mencapai sekitar 25 juta. Angka ini bisa 2 kali lipat dalam 1 tahun untuk sawah tadah hujan dan bisa berlipat 5 kali dalam 2 tahun untuk sawah teknis irigasi.
Kalau dilihat angkanya cukup menggiurkan.

Tetapi tunggu dulu, ada beberapa prasyarat bagi seorang petani untuk memperoleh angka ini. Pertama, pastikan dia yang empunya lahan, kedua, bukan penggarap. Ketiga, angka di atas merupakan hasil panen maksimal.

Keempat, pastikan dia memiliki lahan sawah 1 hektar, karena petani pemilik lahan seluas ini adalah minoritas.

Kelima, pastikan padinya tidak diserang tikus dan hama penggerek batang dan dia tidak gagal panen. Karena angka tersebut hanya akan menjadi angan-angan dan juga menambah pundi-pundi hutang petani kalau sampai peristiwa besar nan kelam ini terjadi.

Saya yakin, hukum ini berlaku lebih kejam bagi sang peggarap.
Jadi benar, bahwa menjadi petani lebih lama payahnya dari senyumnya. Bahkan batin saya juga berkata, bahwa pekerjaan petani juga tidak keren, tidak bisa digunakan sebagai status dan selfie di media sosial. Kegemaran anak muda sekarang yang lebih suka hidup dalam alam virtual dan abai pada keadaan riil sosial.

Bangga ber-selfie dengan makanan unik, tapi abai terhadap nasib petani yang berjasa menghadirkan makanan di mejanya.

Pemuda hari ini juga belum sadar, bahwa makanan yang bisa mengeyangkan dan menyehatkan adalah makanan hasil pertanian, bukan dari banyaknya konsumsi kita terhadap issu-issu media sosial dan hoax. Dan menurut saya akan lebih berpahala, ketika kita mampu berterima kasih kepada petani dari pada mengapresiasi intensitas kita men-share konten media sosial yang ada tulisan Arabnya,yang menjanjikan lipatan pahala, ini fenomena.

Tapi kita kembali dulu ke diskusi ringan saya. Ada fenomena menarik dari aktivitas beberapa pemuda yang masih belum mengaku sebagai petani, seperti teman saya yang satu ini.
Ia menceritakan bahwa sudah 2 tahun lebih ini menggeluti pertanian alami, tata cara perlakuan terhadap lahan dan tanaman yang tidak mengandalkan pupuk pabrik dan pestisida.

Saya jadi bertanya, apakah teori dan praktik pertanian alami ini ia peroleh dari lamanya ia duduk di bangku kuliah?, maklum ia sudah 2 tahun lebih menyandang gelar Sarjana Pertanian. Ternyata jawabannya, tidak!.

Adduh, mendengar jawabanya saya jadi kecewa, kenapa sebuah lembaga ilmu yang tinggi tentang pertanian tidak mengajarkan meng-alamiah-kan pertanian yang memang sudah alami, terus siapa yang mau bertanggng jawab menyebarkan pengetahuan yang sangat berharga ini?.

Kita tidak usah melanjutkan lebih dalam pertanyaan ini, karena faktanya teman saya sudah mempraktikkan. Dan yang menggembirakan, ternyata sudah ada beberapa pemuda lain di Polewali Mandar yang juga sudah mengaplikasikan pertanian alami di desanya.

Fakta ini bisa jadi spasi dari berkurangnya angka tenaga kerja muda sektor pertanian di Polewali Mandar. Menurut data BPS angkatan kerja dari sektor pertanian, kehutanan, perburuhan dan perikanan menurun dari 100.544 menjadi 94 515 dalam 4 tahun terakhir.

Ini juga angin segar ditengah komitmen pemerintah untuk mewujudkan ketahanan pangan, yang bukan hanya bicara soal kuantitas, tetapi kualitas pangan. Ini pula, merupakan jawaban dari rentang waktu kita yang telah begitu lama memperlakukan tanah air kita dengan berbagai merk pestisida. Fenomena kecil ini diharap bisa menggeser mindset masyarakat bahwa bertani tidak mesti dengan pupuk pabrik dan pestisida.

Saya klaim makanan hasil pertanian alami ini sehat, karena diantara bahan yang digunakan untuk menjadi mikroba dan nutrisi sebagai pengganti pupuk dan pestisida adalah nasi, gula merah, dedak dan tanah. Untuk bahan nutrisi diantaranya ikan Cakalang, cangkang telur, tulang sapi, jantung pisang, nanas, pisang, jahe, papaya dan kangkung.

Melihat daftar bahannya, ini mudah didapat dan menurut pengakuan teman saya biayanya hanya sekitar 200 ribu. Dan yang lebih dahsyat ternyata pupuk dan nutrisi alami ini bisa digunakan selama 2 tahun. Ini tentu menjadi solusi jitu dari keluhan mahalnya biaya produksi tanam yang diungkapkan teman saya di atas tadi.

Tetapi kita juga mesti arif, gerakan ini baru bersemai dan butuh siraman serta dukungan berbagai pihak, terutama support pemerintah. Saya mengidealkan, gerakan tani alami ini beriringan manis dengan program pemerintah dalam sektor pertanian. Sudah saatnya kita bergandengan tangan, pemuda, masyarakat dan pemerintah mewujudkan pangan yang berkualitas.

Kita tunggu gerakan lebih besar dari para pemuda tani alami ini untuk lebih massif menularkan gagasan pertanian alami di desanya. Kepeloporan pemuda dalam segmen ini patut dinanti, terutama bagi saya yang lebih memilih hijrah daripada ngaret dan macul (cari rumput dan mencangkul) di kampung.

Terima kasih kepada Ibo Anwar atas penuturan yang saya ceritakan di atas, yang sampai detik ini belum mau mengaku bekerja sebagai petani, meski telah 2 tahun konsisten bertani alami.

Facebook Comments