Memilih di Dua TPS, Empat Anak di Mamuju Terancam Masuk Bui

- in Hukum & Kriminal, Mamuju, Politik
Anggota Bawaslu Kabupaten Mamuju Faisal Jumalang

MAMUJU,TERASSULBAR – Empat anak di bawah umur terancam masuk bui, akibat ulahya yang yang melakukan pencoblosan dibeberapa Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang berbeda.

Dimana keempat anak tersebut meyalahgunakan formulir C6 pada Pemilu 17 April 2019, keempat anak diarahkan orang untuk memilih calon tertentu oleh oknum tim sukses.

Hal tersebut diungkapkan oleh anggota Bawaslu Mamuju Devisi Hukum dan Pelanggaran Pemilu, Faisal Jumalang saat ditemui di kantornya, Jumat (19/04/19). Parahnya, keempat anak tersebut tertangkap basah melakukan pencoblosan sebanyak dua kali di dua TPS berbeda.

“Pertama mencoblos di TPS 26 Kelurahan Karema. Kemudian mereka kembali diarahkan ke TPS 15 Kelurahan Karema untuk mencoblos. Di TPS 15 lah, keempat anak tersebut tertangkap basah oleh petugas KPPS,” ungkap Faisal.

Faisal juga mengatakan, ke empat anak tersebut sudah menjadi status tersangka dan  dalam penanganan Gakkumdu.

“Di Bawaslu tidak hanya menangani pidana pemilunya. Tapi juga Pemungutan Suara Ulang (PSU) dan pemeriksaan petugas KPPS terkait kode etik penyelenggara,” kata Faisal.

Lanjut Faisal, pihak penyelenggara juga ikut diperiksa karena ditakutkan ada penyelenggara yang ikut bermain. Sehingga ke empat anak tersebut lolos memilih. Saat ini keempat pelaku tidak di tahan, dikarenakan orang tua pelaku semua menjamin.

Sementara untuk pemeriksaan kasus pidana pemilu, baru akan dilakukan pada hari Senin. Karena harus diproses pada hari kerja. Saat ini pihak Bawaslu lebih konsen penanganan Pemungutan Suara Ulang (PSU).

“Kita akan kaji, apakah layak untuk PSU di TPS 15 dan TPS 26 Karema. Karena anak-anak ini sudah memilih juga di TPS 26, baru ke TPS 15. Jadi memang dia diakomidasi untuk memilih dan ketahuannya di TPS 15,” ujar Faisal.

“Ini hasil interogasi kami. Pengakuan pelaku kepada kami,”sambungnya.

Sementara itu, terkait pelaku yang mengakomodasi anak-anak dibawah umur tersebut, tidak dapat diproses dalam pidana pemilu karena tidak ada aturan yang mengatur mengenail hal tersebut. “Itu masuk pidana umum. Karena itu ranahnya kepolisian dan kejaksaan,”ujarnya.

Selain keempat anak tersebut, juga terdapat seorang pria dewasa yang juga melakukan penyalahgunaan C6 juga terjadi di TPS 17 Kelurahan Rimuku, dimana pelaku menggunakan C6 yang bukan miliknya.

“Ini pelakunya orang dewasa. Sehingga orang yang kita proses sekarang terkait penyalahgunaan C6 ada lima orang,” pungkas Faisal. (ru)

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *