Nona Vivi Sri Dewi : Perempuan Jangan Gentar Tegakkan Keadilan

Nona Vivi Sri Dewi : Perempuan Jangan Gentar Tegakkan Keadilan

Pada usianya yang baru kepala tiga, Nona Vivi Sri Dewi sudah menduduki jabatan Hakim. Perempuan kelahiran Ujung Pandang 33 tahun silam ini adalah satu satunya Hakim Perempuan di Pengadilan Negeri Kelas II Majene, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.

Alumni Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar tahun 2009 ini tak pernah berpikir sebelumnya akan diangkat sebagai Hakim. Sebab saat itu masih berstatus sarjana Strata satu yang masih perlu melewati banyak fase. Menduduki jabatan sebagai Hakim baginya adalah hal yang luar biasa. Dibenaknya Hakim adalah profesi yang cukup tinggi dan sangat mulia dalam status sosial masyarakat.

“Angan saya pada saat itu tidak pernah terpikir akan menjadi hakim, namun mungkin karena sudah panggilan hati nurani dan sudah digariskan oleh yang maha kuasa sehingga duduklah saya disini sebagai seorang hakim wanita,” kata Nona sapaan akrabnya saat ditemui di Ruang Kerjanya. Senin 16 April 2020.

Menjadi seorang Hakim Perempuan bukan perkara muda, berbagai kendala kadang dihadapi di lapangan. Terlebih dirinya juga berstatus sebagai seorang Ibu dari dua orang Putera. Kedua peran itu tentunya harus dilakoni dengan bijak, tanpa harus mengorbankan salah satunya.

“Menjadi seorang hakim itu suka dukanya pasti adalah yach, tapi lebih banyak sukanya sih, jika kita menyikapinya secara bijak, integritas dan secara mengikuti aturan yang sudah ditetapkan, sehingga secara pribadi kita tidak terbebani pekerjaan atau profesi sebagai hakim karna pada dasar semua telah diatur dalam peraturan jabatan hakim dan peraturan lain yang berkenaan dengan tupoksi hakim,” ujar anak bungsu dari enam bersaudara ini.

Seorang Hakim Perempuan selalu dikedepankan mutasi jabatan. Hal itu tentu akan mempengaruhi kebersamaanya dengan keluarga, terlebih jika seorang Hakim Perempuan adalah seorang Ibu rumah tangga yang juga harus mengurus semua keperluan anak – anaknya. Apalagi jika anak tersebut masih memerlukan pola asuh yang intensif dari seorang Ibu.

Hakim mengurus segala sesuatu yang berkenaan dengan sekolah anak mencari rumah jika rumah dinas tidak cukup dan juga mengenai kalau anak tersebut masih dibawa umur,” sehingga hakim wanita pasti terbebani dengan bagaimana penjagaan perawatan anak pada saat kami menjalankan tugas,” kata dia menambahkan.

Meski begitu, semua itu harus disikapinya dengan bijak sebab segala sesuatunya merupakan aturan yang sudah ditetapkan tentang mutasi yang harus diberlakukan kepada seluruh Hakim tanpa terkecuali.

Dia menjelaskan, saat ini di Indonesia, perempuan yang terjun dalam profesi penegakan hukum mungkin sudah sangat banyak dan mengukir prestasi, meskipun hal tersebut dapat mengancam jiwa namun tetap saja profesi ini masih digandrungi sebagian kaum Perempuan.

Pada momen hari Hari Kartini tahun ini dia berharap agar Perempuan yang bergelut dibidang hukum lebih berjaya dan dapat meningkatkan integritas diri, Profesionalisme serta menjunjung rasa keimanan yang kuat, rasa kebangsaan juga rasa kemanusian.”Itu yang harus diperlukan, sebab jika berbicara mengenai hukum itu tidak jauh-jauh adanya Kepentingan atau berkenaan hak asasi manusia,” kata dia.

Sebagai seorang hakim dirinya selalu dituntut untuk menjunjung tinggi profesionalisme namun disisi lain hakim kadang mengalami dilema. Secara kepangkatan dan pengelolaan keuangan Hakim adalah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN), namun secara hirarkinya dalam perundang-undangang hakim adalah pejabat negara. Dualisme jabatan ini mempengaruhi fasilitas yang didapatkan Hakim secara kepangkatan ataupun gaji yang diterima.

“Dalam pendekatan religi Hakim disebut sebagai perwakilan tangan Tuhan, Dalam perundang-undangan Hakim adalah seorang pejabat negara namun pada saat ini Hakim belum sepenuhnya mendapatkan hak-haknya sebagai pejabat negara,” ujarnya.

BIODATA

NAMA : NONA VIVI SRI DEWI, S.H.P

PANGKATDAN GOLONGAN : Penata III / c

KELAHIRAN: Ujung Pandang, 5 Februari 1987

PEKERJAAN: Hakim Pengadilan Negeri Majene

STATUS PERKAWINAN : Kawin
KEGEMARAN : Shopping & Travelling

DIANGKAT MENJADI HAKIM : Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI tanggal 23 Agustus 2013, Nomor 99/P Tahun
2013.

PENDIDIKAN :
– SD Negeri Pongtiku II Ujung Pandang Lulus    Tahun 1999.
– SLTP Negeri 06 Makassar Lulus Tahun 2003.
– SLTA Negeri 1 Makassar Lulus Tahun 2005.
– Universitas Muslim Indonesia Lulus Tahun     2009.

KARIER :
– Calon Hakim Pengadilan Negeri Makassar      Kelas I A Khusus (2010-2011)
– Calon Hakim Pengadilan Negeri Gresik            Kelas I B (2011-2013)
– Hakim Pengadilan Negeri Masamba Kelas II    (2013-2016)
– Hakim Pengadilan Negeri Majene Kelas II        (2016-sekarang)

NAMA AYAH & IBU :
AYAH : H. MURSALIM DG. NABA
IBU     : Alm. HJ. SANIA

Anak Ke 6 dari 6 bersaudara yakni :
1. SUBHAN, SE. (Wiraswasta).
2. HAMKA, SH.,MH. (Hakim).
3. RAHMATYA (Wiraswasta).
4. Alm. MULTAZAM.
5. BRIPKA NUR ILHAM HALID.

KETERANGAN KELUARGA :
Suami : SULTAN TRANSASMOKO, SH.,MH.
Anak   : 1. DEN PRADIPTA DIASMOKO
2. DEN KIEVANO WIBIASMOKO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *