Peringati HTN, DPRD Sulbar Janji Bentuk Pansus

Ilustrasi sengket agraria di Matra

MAMUJU,TERASSULBAR – Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) tak terlepas dari konflik agraria, salah satunya konflik lahan perkebunan kelapa sawit antara PT. Unggul Widya Tegnologi Lestari dan masyarakat di Desa Balanti, Kecamatan Baras, Kabupaten Mamuju Utara tak kunjung menemukan titik terang.

Berangkat dari problem tersebu dan mencegah timbulnya konflik-konflik agraria baru. Dalam memperingati Hari Tani Nasional (HTN) yang jatuh pada tanggal 27 September 2016, Komisi I DPRD Sulbar memastikan kepada ratusan mahasiswa yang menggelar aksi peringartan Hari Tani Nasional di Kantr DPRD Sulbar, bakal membentuk Panitia Khusus (Pansus) penyelesaian konflik agraria.

“Pihak DPRD SUlbar akan membentuk pansus penyelesaian konflik agraria untuk mencegah konflik perebutan lahan dimasyarakat yang tentu merugikan semua pihak,” ujar Ketua Komisi I DPRD Sulbar Syamsul Samad.

Ia pun sependapat dengan tuntutan para demonstran yang berharap, konflik agraria di Sulbar tak dibiarkan dan harus mendapat penanganan khusus.”Kami berterima kasih kepada mahasiswa yang mendukung pembentukan pansus penyelesaian konflik agraria dan secepatnya kami akan bergerak menyelesaikan konflik agraria yang ada di Sulbar,” ucap politikus Partai Demokrat itu.

Desakan pembentukan pansus penyelesaian agraria bukanlah kali pertama diusulkan, dan kini mahasiswa di Mamuju yang tergabung dalam Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) Pimpinan Kota Mamuju dan mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Mamuju, kembali mendesak dibentuk pansus penyelesaian konflik agraria.

Hal itu disampaikan kembali oleh Ketua Cabang PMII Mamuju Ibnu Imat Totori, ia meminta DPRD Sulbar agar bekerja sungguh sungguh membentuk pansus agraria sebagai upaya penyelesaian konflik agraria.

“Kami minta DPRD Sulbar bekerja serius, dan berharap tidak seperti di kabupaten Mamuju Utara sebagai daerah penghasil sawit, di wilayah itu dibentuk pansus agraria namun kami anggap tidak bekerja serius, sehingga masih banyak konflik agraria disana,” harapnya. (*)

Facebook Comments