Selamat Berpisah Anggota DPRD Majene, Selamat Datang Penghuni Baru

- in Majene, Politics
62
Pelantikan anggota DPRD Majene periode 2019-2024

MAJENE, TERASSULBAR — Sidang paripurna pelantikan dan pengambilan sumpah anggota DPRD Majene periode 2019 -2024 berlangsung secara meriah di Kantor DPRD Majene, Jalan Ammana Pattolawali, Kelurahan Labuang, Kecamatan Banggae Timur. Majene. Senin, (16/9/19).

Sebanyak 25 anggota DPRD Majene yang dinyatakan lolos pada Pemilu 2019 April lalu dilantik dan diambil sumpahnya oleh Ketua Pengadilan Negeri Majene Medi Batara Randa. Gubernur Sulawesi Barat Ali Baal Masdar hadir dalam prosesi seremonial itu.

Memulai debutnya sebagai wakil Rakyat, para legislator baru ini tentunya sudah punya visi dan misi tersendiri dalam menjalankan tugasnya lima tahun ke depan. Tak terkecuali Muhammad Safaat, pemuda kelahiran Desa Kabiraan 26 Agustus 1988 ini mempertegas akan melanjutkan perjuangan pembangunan jalan Ulumanda.

Dia mengaku sudah sejak lama menghabiskan waktu dalam perjuangan di jalanan menuntut perbaikan jalan penghubung Kabupaten Majene dan Mamasa itu. Politisi berusia 31 itu baru saja lolos ke DPRD Majene melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Kini ia memikul amanah sebagai wakil rakyat di parlemen.

Saat ditemui beberapa saat usai dilantik menjadi anggota DPRD Majene periode 2019-2024, Safaat mengaku akan teguh memegang komitmen terhadap rakyat. Sebab dia merasa kehadirannya di DPRD Majene tidaklah melewati jalan mulus. Banyak rintangan yang dia hadapi. Ia lantas membanting tulang demi membangun kepercayaan masyarakat berawal dari gerakan mahasiswa hingga kini menginjakkan kaki ke kursi parlemen.

“Jadi inilah jalan hidup saya, karena ini amanah maka harus dijaga sebaik-baiknya,” ucapnya.

Situasi dan kondisi ini tentu berbeda dengan para legislator DPRD Majene yang berhenti masa jabatannya akhir pekan lalu. Hari terakhir mereka mengabdi diiringi dengan acara tangis – tangisan di ruang Paripurna. Seperti halnya Hasbinah Arief Saleh 53 tahun, yang tak kuasa membendung kesedihannya, air mata politisi Partai Golkar itu terus menetes membasahi pipinya.

Pemandangan itu terlihat saat sidang paripurna pengesahan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) usai dilaksanakan. Jumat, 13 September 2019. Salah satu Legislator Perempuan di Majene periode 2015 – 2019 ini terus menunduk tapi terlihat tegar. Ruang sidang Paripurna DPRD Majene sore itu, mendadak diselimuti suasana haru.

Wajar saja jika itu terjadi, Sebab ini adalah momentum perpisahan di dunia Perpolitikan. Apalagi Hasbinah sudah dua periode mengabdi di Kantor aspirasi rakyat jalan Ammana Pattolawali, Kelurahan Labuang, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene. Masa itu tentu banyak meninggalkan kenangan.

“Terimakasih dan mohon maaf jika selama 10 tahun bersama di DPRD ada sesuatu yang kurang berkenan baik itu tingkah laku maupun tutur kata mohon dimaafkan itu tidaklah kami sengaja,” kata Hasbinah sambil berkaca – kaca,
berharap silaturahmi dengan segenap pihak tetap terjalin meski dia tak menjabat lagi. Jumat, (13/9/19).

Hasbinah sebenarnya bukan tidak ingin lagi terus melanjutkan kariernya di DPRD Majene, tapi dia kandas saat Pemilu 2019 April lalu. Perolehan suaranya hanya 1082, beda 7 suara dengan juniornya di daerah pemilihan satu Partai Golkar Majene, Sadli yang meraih perolehan suara sebanyak 1089.

Itulah perpisahan, yang selalu membuat Manusia merasa sedih. Tak terkecuali Darmansyah, Ketua DPRD Majene. Politisi Partai Amanat Nasional itu juga terlihat tak kuasa membendung kesedihannya. Nada suaranya gemetar, naik turun saat membacakan risalah sidang.

Darmansyah yang ikut nyaleg untuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tingkat provinsi Daerah Pemilihan (Dapil) empat Majene ini juga kandas ke tempat tujuannya karena tidak dapat memenuhi perolehan suara secara maksimal. Pria kelahiran 26 Desember 1968 ini hanya memperoleh 3.785 suara pada Pemilu 17 April lalu.

Tidak banyak kata yang bisa terucap dari bibir Ketua Masyarakat Budayawan Sulawesi Barat itu kecuali sebuah puisi tentang perpisahan yang berbunyi begini: Terpancar akar ke dalam tanah
Bergurau dan bercanda kita bersama Khilaf dan salah mohon dimaafkan
Tiada langit yang tak berawan
Tiada lautan yang tak berombak
Tiada manusia yang tak luput dari salah Bukan Manusia bila tidak memberi maaf,” kata Darmansyah kepada hadirin sore itu setelah adzan Ashar. (mo)

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *