Syekh Dr. H. Ilham Shaleh, M.Ag., Maulid Nabi Lebih Mulia Dari Hari-Hari Besar Lainnnya

- in Opini, Sulbar
71

Sebagaimana kebiasaan yang dipelihara oleh sebagian besar umat Islam di dunia khususnya di Indonesia Rabiul Awal diperingati sebagai bulan yang di dalamnya terdapat hari besar dalam sejarah Islam.

Bukan sekedar hari besar karena peristiwa yang terjadi di bulan Rabiul Awal, namun juga karena kemuliaan yang ada dalam bulan tersebut. Peristiwa monumental tersebut populer dengan istilah maulid atau hari kelahiran Rasulullah saw.

Analogi sederhana dapat mendeskripsikan alasan sebagian besar umat Islam melihat hari kelahiran Rasulullah saw sebagai hari besar yang di dalamnya terdapat kemuliaan.

Sudah lazim bagi umat Islam memperingati hari-hari besar misalnya Idul Fitri, Idul Adha, Nuzulul Qur’an, Lailatul Qadr, dan lain-lain. Hal tersebut karena di dalamnya diyakini terdapat kemulian dan keberkahan yang diturunkan Allah SWT sebagai akibat peristiwa besar pun monumental yang terdapat di dalamnya.

Sebut saja Idul Fitri yang di dalamnya terdapat pensucian kembali fitrah oleh Allah SWT bagi hamba-Nya yang telah menegakkan bulan Ramadhan. Idul Adha diperingati dengan peristiwa di dalamnya perihal kurban yang masyhur antara Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as. Nuzulul Qur’an diperingati dengan peristiwa turunnya pertama kali ayat suci Al Qur’an.

Begitupun lailatul qadr yang mulia daripada seribu bulan karena peristiwa didalamnya malaikat-malaikat pun turun dengan izin Allah SWT.

Sederhananya, sebuah hari besar atau momentum akhirnya diperingati umat Islam adalah sebab dari adanya peristiwa mulia di dalamnya. Adanya peristiwa dalam sebuah hari tersebut membuat sebuah hari menjadi besar yang di dalamnya terdapat kemuliaan dan keberkahan bagi peringatannya.

Begitupun dengan peringatan maulid, jika beberapa contoh hari-hari besar yang telah disebutkan diperingati karena daripadanya terdapat kemuliaan, maka hari peringatan maulid di bulan Rabiul Awal sebagai bulan kelahiran Rasulullah saw bahkan lebih layak diperingati dari seluruh hari-hari besar yang diperingati umat Islam.

Alasannya sederhana, karena hari-hari besar dan kemuliaan yang terdapat di dalamnya tidak akan pernah ada untuk dikenal dan diperingati umat Islam jika tidak ada hari besar yang menjadi titik tolaknya yaitu hari maulid atau hari kelahiran Rasulullah saw.

Dengan kata lain, kelahiran Rasulullah saw di bulan Rabiul Awal adalah titik tolak dikenalnya hari-hari besar lainnya dalam Islam. Masing-masing kita dapat membayangkan, bagaimana jika peristiwa kelahiran Rasulullah saw (maulid nabi) tidak pernah terjadi.

Tentu itu Mustahil bagi umat Islam akan mengenal kemuliaan dan keberkahan hari-hari besar semisal Idul Fitri, Idul Adha, Nuzulul Qur’an bahkan Lailatul Qadr. Tanpa adanya hari kelahiran Rasulullah saw (baca: maulid), semua hari-hari besar dan bersejarah dalam Islam tersebut tidak akan ada dalam kamus perbendaharaan umat manusia. Oleh karena manusia mulia (Rasulullah saw) yang mengenalkan kita akan hari-hari besar tersebut tidak dilahirkan (peristiwa maulid tidak pernah terjadi).

Dengan demikian, peringatan hari maulid bahkan lebih penting untuk diperingati dan disyukuri kejadian dan peristiwanya daripada hari-hari besar lainnya. Mensyukurinya adalah dengan memperbanyak ibadah, mulai zikir, shalawat, sedekah, puasa dan sebagainya. Hal tersebut berdasar pada kebiasaan Rasulullah saw yang senantiasa berpuasa di hari senin karena merupakan hari lahirnya. Nabi ditanya tentang puasa pada hari Senin, maka beliau bersabda, “Itu adalah hari kelahiranku dan turunnya wahyu kepadaku” (HR.Muslim).

Hadits di atas menjelaskan bahwa pertama, Rasulullah saw menjadikan kebiasaan olehnya untuk memperingati kelahirannya (maulid). Kedua, dalam memperingati hari lahirnya, Rasulullah saw melakukannya dengan ibadah, dalam hal ini berpuasa.

Sehingga sebagai umat Rasulullah saw merupakan sebuah kemuliaan untuk dapat mengisi momentum maulid dengan memperbanyak ibadah. Oleh karena juga sangat jelas dalam hadits tersebut Rasulullah saw tidak membatasi puasa sebagai satu-satunya bentuk atau cara ibadah dalam memperingati hari lahirnya dan merebut kemuliaan didalamnya.

Jika pada hari-hari besar lainnya kita berlomba-lomba dalam beribadah demi raihan keberkahan dan kesyukuran kita akan momentum hari-hari besar tersebut. Maka selayaknya momentum peringatan maulid akan lebih mendorong kita untuk lebih bersyukur dengan semakin memperbanyak ibadah. Tentu saja memperbanyak ibadah ini akan lebih menggugah hati kita untuk dapat lebih mencintai Rasulullah saw. Apakah pantas bila ada orang yang melarang umat Rasulullah saw sedang berusaha untuk menambah kecintaannya pada nabinya.

Oleh : Syekh Dr. H. Ilham Shaleh, M.Ag.
Pimpinan Thariqoh Qodiriyah Sulbar
Pengasuh Ponpes Darul Ulum Asy Ariyyah KH. Muh. Shaleh Majene.

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *