Unasman dan Pendidikan Spiritualiame

- in Pendidikan & Kesehatan

Oleh: Munawir Arifin
Alumni Unasman Sulbar/Alumni Magister Ilmu Politik UI

BEBERAPA hari lagi, tepatnya tanggal 15 Juli 2017, Universitas Al Asyariah Mandar (UNASMAN) Sulawesi Barat akan mengadakan acara Wisuda. Tentunya hal ini memberi kebahagiaan kepada para calon wisudawan dan wisudawati yang akan resmi meraih gelar sebagai seorang sarjana kampus Unasman.

Tetapi, dibalik semua itu, sebagai seorang alumni Unasman yang telah menyelesaikan studi di kampus biru ini pada tahun 2012 lalu, tentunya penulis selalu mengingat sebuah motto kampus yang telah lama dimandatkan kepada seluruh mahasiswa baru yang masuk ke Unasman, yaitu Kampus Pengabdian. ‘Pengabdian’ sebagai motto yang menunjukkan spiritualitas seorang manusia ‘abdi’ di muka bumi ini. Selain daripada bahwa kampus ini juga diresmikan oleh Presiden RI ke 5 yaitu Megawati Soekarno Putri, termasuk menjadi kampus yang menentukan syarat berdirinya Provinsi Sulawesi Barat bukan?

Sebagai salah satu kampus tertua di Tanah Mandar, Unasman sejak berdiri telah menjadi pusat dan laboraturim bagi pendidikan agama dan kebudayaan. Ini terlihat dari adanya papan nama ‘Pondok Pesantren Asy’ariyah’ di halaman masjid kampus Unasman. Apa gerangan kampus ini juga sebagai Ponpes? Apakah pendiri kampus menyadari tantangan masyarakat atau manusia modern adalah keringnya spiritualitas akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga membutuhkan pondok pesantren?

Pendidikan Spiritualisme

Konsep pendidikan spritualisme merupakan konsep pendidikan yang berbasis pengelolaan pengelolaan rohaniah manusia. Pendidikan berbasis spiritual didasari oleh keyakinan bahwa aktivitas pendidikan merupakan ibadah kepada Allah SWT. Manusia diciptakan sebagai hamba Allah yang suci dan diberi amanah untuk memelihara kesucian tersebut (Ahmad Rivauzi, 2007). Tentunya kesucian yang dimaksud menurut penulis adalah kesucian tubuh (jasmani) dan jiwanya (rohani).

Jika sains memandang manusia dari sisi matter-nya, filsafat memandang manusia dari sudut pandang mind-nya, maka spiritualis memandang manusia dari sudut pandang spirit (ruh) nya. Secara ontologis, spiritualisme mendasarkan pandangannya bahwa manusia selain memiliki dimensi eksoteris (tubuh), manusia juga memiliki sisi esoteris (ruh) yang bersifat transenden dan Ilahiyah.

Spritualisme berpandangan bahwa Tuhan adalah modus eksistensi manusia yang kepada-Nya seluruh manusia mesti menuju. Spiritualisme mendasarkan pandangannya pada spirit manusia yang tunggal dan universal sangat memungkinkan untuk mengantarkan manusia meninggalkan egoismenya dan menuju cita-cita humanisme universal, yaitu persamaan, persaudaraan, cinta kasih, keadilan dan pengorbanan (Sabara Putera, 2010).

Jika konsep sipritualisme berdasarkan keberadaan manusia diatas, maka manusia akan melampau kebutuhan materi dan akalnya, Tuhan sebagai tujuan akhir dari kebutuhan dan penghambaan manusia. Maka tidak heran setelah perang badar, Rasulullah ditanya oleh para sahabat bahwa perang apakah yang lebih dahsyat setelah perang badar? Rasulullah SAW menjawab, perang melawan hawa nafsu.

Sehingga beberapa ulama sepakat bahwa jihad manusia ke jalan Allah adalah jihad yang menekankan usaha sungguh-sungguh untuk mengendalikan diri, mengendalikan hawa nafsunya. Bahkan Al Razy misalnya menekankan jihad dalam konteks perang (qital) pun harus diawali dengan kemenangan pertama dan terutama terhadap diri sendiri, seperti tidak munafik, tidak riya, dan tidak untuk kepentingan sendiri. Semua harus dilakukan secara ikhlas, yang berarti diawali dengan mengendalikan diri agar aktivitas apapun yang dilakukan tidak dikendalikan oleh hawa nafsu (Abdurrahman Wahid, 2010).

Sehingga konsep pendidikan dan spiritualisme, tentunya tidak lepas dari bagaimana pendidikan mampu menciptakan manusia yang memiliki ilmu dan mampu mengendalikan hawa nafsunya yang memberi maslahah bagi kehidupan manusia lainnya, termasuk bagi bangsanya. Toh, para pendiri negeri ini tentunya juga adalah mereka yang telah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi (kampus) baik dalam maupun luar negeri, sebut saja Ir. Soekarno dan Dr. Moh. Hatta. Mereka adalah fouding fathers yang mengalami banyak gejolak dan tantangan dalam mengendalikan diri demi kepentingan bangsanya.

Dalam catatan Cindy Adams, Soekarno dimasa zaman penjajahan memimpin para manusia Indonesia yang sederhana dan tak berpendidikan, mengalami berbagai tantangan, termasuk klaim kolaborator Jepang disematkan kepadanya karena bersepakat terhadap Jepang untuk membentuk PETA. “Kalau pikirianku sedang keruh, aku sering mendatangi seorang kyai, akan tetapi di malam itu aku hanya duduk berpikir seorang diri. Aku memohon doa..” kata Seokarno (Cindy Adams, 2000).

Begitulah gejolak jasmani dan kerohanian seorang pemimpin dalam memperjuangkan martabat bangsanya. Sehingga perjuangan Soekarno tidak bisa dilepaskan dari konsep spiritualisme, agama dan kebudayaan Indonesia yang telah tertanam dalam diri dan jiwa Soekarno. Bukankah pendidikan kita hari ini kering akan nilai-nilai moralitas dan jiwa patriotisme terhadap bangsa dan tanah air?

Spiritualisme Mahasiswa Unasman

Tentunya dengan adanya Pondok Pesantren Al Asy’ariah, menegaskan bahwa kampus ini bukan hanya berbasis ilmu pengetahuan (sains) saja, tetapi berbasis ilmu agama, termasuk kebudayaan lokal yang ada di Tanah Mandar. Sehingga alumni yang diharapkan nantinya bukan hanya memiliki kemampuan ilmu fakultatif yang telah diajarkan di dalam kampus, tetapi memiliki ilmu agama yang memadai dalam rangka pengamalan sebagai alumni di masyarakat. Sehingga bisa dikatakan bahwa mahasiswa Unasman juga sekaligus santri yang membawa mandat ideologis keagamaannya, yaitu ajaran Al Asy’ariyah dengan prinsip tasamuth (toleran), tawasuth (moderat) , ta’azun (seimbang) dan al adlh (adil).

Konsep pendidikan yang diajarkan di Unasman tentunya tidak mendikotomikan antara ilmu pengetahuan dan agama, sehingga kontribusi dan sumbangsih yang diharapkan dari para alumni jika dikaitkan dengan konsep pendidikan spiritualisme diatas peran vital alumni dalam memahami eksistensi dirinya sebagai makhluk Tuhan dan ‘pengabdi’ bagi seluruh manusia dan alam, termasuk daerah dan tanah airnya. Sehingga para alumni Unasman tidak sekedar menjadi manusia modern dengan kesenangan (jasmaniah), tetapi gersang akan jiwa-jiwa ke-Tuhan-an (rohaniah) akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk kehilangan tradisi dan kebudayaannya sendiri akibat gempuran budaya dari masyarakat modern.

Prof. Dr. KH. Sahabuddin, pendiri kampus Unasman ini dalam disertasinya yang berjudul Nur Muhammad, Pintu Menuju Allah, menegaskan melalui pemikir Islam kontemporer, Hossein Nasr bahwa, masyarakat modern yang sering digolongkan sebagai The Post Industrial Society, adalah suatu masyarakat yang telah mencapai tingkat kemakmuran material sedemikian rupa dengan perangkat teknologi yang serba mekanik dan otomatis, bukannya semakin mendekati kebahagiaan hidup, melainkan sebaliknya kian dihinggapi rasa cemas akibat kemewahan hidup yang diraihnya. Mereka telah menjadi pemuja ilmu dan teknologi, sehingga tanpa disadari, integritas kemanusiaannya tereduksi lalu terperangkap pada jaringan rasionalitas yang tidak manusiawi (Dr. Sahabuddin, 2002).

Salah satu kritik tajam yang dilontarkan terhadap manusia modern adalah, mereka dilanda kehampaan spiritual. Kemajuan yang pesat dalam lapangan ilmu dan filsafat yang sarat dengan rasionalisme sejak abad ke 18 kini dirasakan tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok manusia dalam aspek nilai-nilai transendental, suatu kebutuhan vital yang bisa digali dari sumber wahyu Ilahi.

Sementara Arnold J. Toynbee sejarawan terkemuka mengemukakan bahwa, manusia ‘bermain’ dengan perang dapat dikatakan sebagai kegagalan akal (reason) dalam menyelesaikan hubungan antar Negara (Arnold Toynbee, 1971). Begitupun Nurcholish Madjid memandang abad modern sebagai teknokalisme yang mengabaikan harkat kemanusiaan. Segi kekurangan paling sering dari abad modern ini, katanya ihwal yang menyangkut diri kemanusian yang paling dalam, yaitu kerohanian (Nurcholis Madjid, 1984).

Adanya kecendrungan manusia mencari nilai-nilai Ilahiyah, merupakan bukti bahwa manusia itu pada dasarnya sebagai makhluk rohani disamping sebagai makhluk jasmani. Dengan menghadapi materialisme yang melanda saat ini, menurut Harun Nasution, perlu dihidupkan kembali spiritualisme. Sehingga, menurut Sahabuudin, disinilah Tasawuf dengan ajaran kerohanian dan akhlak mulianyanya dapat memainkan peranan penting. Sementara Khan Sahib Khaja Khan mengatakan, kalau Islam dipisahkan dari aspek esoterisnya (tasawuf), maka ia hanya menjadi kerangka formalitas saja yang akhirnya akan menghilangkan keindahan Islam itu sendiri (Khan Sahib, 1978).

Sehingga dapat dilihat bahwa, kampus Unasman yang didirikan oleh seorang Profesor sekaligus Guru Tasawuf di wilayah Sulselbar ini mengharapkan bahwa jebolan dan alumni Unasman nantinya bukan hanya manusia yang memiliki kemampuan intelektualitas (akal) tetapi kemampuan rohaniah (akhlak) dalam menghadapi tantangan manusia modernitas. Wajar bila ada kurikulum khusus Aswaja (Ahlu Sunnah Wal Jamaah) kampus ini yang diberikan kepada mahasiswanya sebagai kabutuhan spiritualisme.

Melihat problem manusia Indonesia dan tantangan kampus di masa mendatang sebagai laboratorium manusia terdidik, rasa-rasanya kita masih melihat anak bangsa terutama para alumni produk perguruan tinggi kita masih menjadi masalah, dimana rata-rata mereka bergelar akademik yang tinggi, apalagi setelah mengenyam pendidikan diluar negeri. Alih-alih memberi kontribusi terhadap kemajuan dan pembangunan bangsa, malah menjadi sumber masalah bagi bangsa.

Perilaku dan watak diluar kemanusiaan dan jauh dari nilai-nilai ke-Tuhan-an masih menjadi tonton masyarakat kita secara umum di media. Perilaku koruptif, intimidatif, intoleransi dan klaim kebenaran kelompok, pembunuhan dengan melakukan bom bunuh diri atas nama jihad dan agama, serta perilaku lainnya diluar batas dan standar kemanusiaan kita.

Unasman dan alumninya dimasa mendatang, senantiasa diharapkan tetap menanamkan ilmu dan ajaran ideolog ke-Asy’ariyah-an sebagai kekuatan spiritualisme sekaligus solusi terhadap problem kehidupan masyarakat dan bangsa kita, sebagaimana telah diamanatkan pendiri kampus ini. Mahasiswa Unasman dan alumninya yang mengamalkan ajaran agama yang memanusiakan manusia, menjaga kebudayaannya (lokalitas Mandar) dan ke-Indonesia-an, menghargai perbedaan antar sesama (toleran), terlebih lagi berkontribusi terhadap pembangunan Sulawesi Barat secara umum. Wallahua’lam bisshawab…

Facebook Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *